Kolom Puisi

Sahabat
By Admin

Terngiang Jauh disana
Dirimu memanggil Hatiku
Untuk Tetap Bertahan
Suka dan duka kita bersama

Adakah engkau di sana
merindukanku disini
ku coba menepis bayangmu yang selalu menjauh
agar tetap bersama diriku selamanya

ku lihat kau bersama si dia
melupakan aku sahabatmu
tapi bukankah itu hakmu
menjadikan diriku tak berarti bagimu

Ku coba menunggu engkau
biarkan hatiku membeku
sampai kapanpun
agar kau kembali lagi.

Sampah
by yu2n

Hijau bumiku indah nan berseri
hutan dan alamku lestari
tapi……
kini engkau menghitam,
legam ditelan sampah

Adakah yang peduli terhadapmu?
Adakah yang bersemangat menjagamu?
Akankah engkau tetap lestari?
agar engaku tetap asri

Oh…..Bumiku,
engaku muntah akibat keserakaan manusia
engkau disakiti oleh limbah masyarakat
Bagaimankah caranya agar sampah menjadi musnah?

Saudaraku…..
marilah kita sama-sama menjaga lingkungan
agar bumi kita tetap lestari

Salam lestari……..!!!!!!

Komputer dan Virus
By exal

Temanku dy punya komputer
Baru Bervirus Lagi
Tapi Z lihat tdk ada antivirusnya
Dy Bilang temanku bagaimana mi?

Waktunya z datang
Dy Pake antivirus yg sdh di update
tapi itu antivirus dy tidak dapat apa-apa
Cuma melanjutkan saja scan

Z pke lagi antivirus yang terbitnya tiap bulan
yang baru lagi
Kapan di Scan
Eh malah tidak ada dy dapat apa-apa juga

akhirnya za biarkan saja itu komputer
nanti smpe z dapat antivirusnya yg baru lagi
tapi antivirusnya juga pwa aneh2
bukannya mengscan malah menghang

terpaksa itu virus z hapus
tapi hapus secara manual
virusnya juga gampang di hapus
tinggal tekan saja delete
sudahmi
berhentimi

ARSYAD INDRADI

DI ATAS RANJANG WAKTU

Kuhempashempas tubuh
Agar muncrat api
Raya Puncak muntah salju
Tubuhku beku

Tak ada api, kaukah api
Tak ada tungku, kaukah tungku
Ah begitu jahanamnya malam

Tak lelehleleh
Setiap erang kuhempashempas
di batubatu rindu

Kau berkata: Membaralah dalam tubuhku
Hingga puncak ekstase
Di atas ranjang waktu

bogor, 2007

GERIMIS MALAM

Kusembunyikan rindu
di balik tirai gerimismalam
angindingin
makin menuak dalam kenangan

Karna tak kuasa berlari
dan tangan terkulai
cuma desah napas
yang dapat membisikkan katahati
dan bila pandangmata redup
maka itulah hikayat rembulan
terkubur awan

Tak lebih sebuah pinta
jangan ajalkan sisa embun
pada selembar daun
agar kulihat warna pagi

bbaru,08

LAUT
: diah h

Masihkah lautmu membiru
Masihkah lautmu mengombak
yang membuatku rindu?

Aku cuma diam
memandang laut yang paling jauh
setiap ombaknya mengalun
pantai jadi kepayang

bbaru, 08

MASIH MEMBACA MALAM
RINDU YANG DALAM

Seperti juga aku
Masih seperti malam yang lalu
Membaca syair bersuluh kunangkunang
Angin dingin memaksaku berkalikali
Membunuh rindu
Bilamana matamu menetesi sukmaku
Maka bergegas menengok awan

Sebisabisanya kutengadahi langit
Adakah walau sebiji bintang?

Syair membasah di jelagamalam
Untaidemiuntai kujemur di ayatayatzikir
Kujemur segala duka

bbaru,2008

PINTU DOA

Mengapa aku memilih malam menemuimu
Agar aku leluasa mencurahkan isihatiku
Begitu ramah membuka pintu setiap aku mengetuk

Di tengah malam yang sunyi yang maha gulita
Tapi maha bercahya di mataku
Kurebahkan rinduku di pangkuanmu
Menumpahkan airmataduka
Yang terperangkap dalam dustadunia

Berkalikali aku datang padamu
Agar aku kaulahirkan kembali
Merindukan tangisan bayi
Yang tak pernah dusta menyerumu

bbaru, 2008

SENJA DI TANAH LOT

Dengan sabar aku menunggu
Sementara gulungan ombak menggemuruh
Di pantai yang sunyi
Berkalikali kukubur fatamorgana
Agar aku dapat melihat seluasluas laut

Kuserahkan diri pada pecahan ombak di batubatukarang
Debar jiwa di mataharimerah diseliputi awan
Langit telah melahirkan senja

Bersuntingbunga dan beras antara dua alis
Kubuihkan sukmasejatiku di mataombak yang kemilau
Yang menggitakan ayatayat utsaha dharma
Aku masih menunggumu, kekasih

bali, 2008

Di Kebun Yullya

di kebun Yullya
aku menjelma kumbang berseliweran
sayap kata-kataku berkeliaran
pohon hatimu bergetaran
antuk rayuku bermunculan
bunga wajahmu bermekaran
putik cinta bertebaran
pada sorot matamu, aku berteriak kegirangan
O Yullya
redakanlah napsuku
jinakkanlah antukku
relakanlah madumu
temaramkan kemarauku
pada musim kembang di kebunmu
kau dan aku kan terkenang
disetiap hembusan kata pada cerita

Serang, 2008

Bandung dengan Musimnya

dingin membeku
tak ada yang telanjang
pagi
sore
malam
bandung mengembun dilingkar cuaca
siang tak pernah terasa
pada waktu yang diselimuti kabut rahasia

Lembang, 2008

Rindu Alis

di rimbun alismu telah datang rindu musim
saat matamu memandang lautan dan ombak
kusapa arusnya, berlarilah berlarilah terus Afrina, teruslah berlari
kalau itu bisa menghilangkan bayang-bayangku dari mimpimu
toh darah cintaku tidak akan berhenti mengaliri langkahmu
karena kau akan terpeleset jatuh dalam pelukanku
Afrina Afrina Afrina
kau tahu, aku bagai laron dengan sayap yang rapuh
terbang nekad menggapai cahaya malam: bukan bulan bukan bintang
tapi rambu-rambu cinta dibinar matamu
meski akhirnya aku merayap mengukur diri menanti musimku kembali

“terbanglah terbanglah terbanglah kau sebagai laron, hinggaplah pada rimbun alisku
toh lariku tidak akan lurus menjauh, tapi melingkar rapat
menanti sayap-sayapmu rontok
hingga kau terjatuh pula dalam pelukanku”

o lautan, teruslah menderu dengan ombakmu
sampaikan padanya bahwa dia adalah karang yang rapuh oleh asinku
seperti embun hinggap di daun, kukecup matamu
sebagi tanda telah datang rindu musim

Serang, 2008

Ayah dan Ibu pada Anak

“jangan tarik gulung benangnya,
biarkan layang-layang itu melayang meninggi menyentuh awan
jangan takut,
mengecil layang-layang akan tetap terlihat
dan kita bisa merasakan ketinggiannya lewat benang yang kita ulur”
nak, jangan kau putus benangnya, itu pesan bapakmu
sebab asi yang ibu berikan sudah menjadi darahmu

Serang, 2009

Surat buat Kawan

kawan,
dengan tambang mengikat tempurung
jangan termenung di bawah pohon ketapang
yang dibutuhkan penyair adalah luka kata-kata
bukan asin laut pada karang yang meluka
kawan,
helai demi helai selemberan daun ketapang yang jatuh
akan menjadi alas pena kita
maka,
peraslah keringat putus asamu
alirkan pada  sungai gangga, sulap menjadi tinta
hingga tak henti prasastimu dapat di tulis dengan sastra
karena, akhir yang baik bukan mengayunkan tubuh di pohon ketapang
atau membatukan tubuh dalam laut
tapi, mengakarkan kata pada lembaran daun

Serang, 2009

Rindu Pohon pada Musim

tanpa lampu aku memandang tubuhmu, diam membatu
merapat pada ranting dan daun tempat kicauan berayun
o tubuh berpayung pohon dirundung mendung, lepaskan kakimu dari akar hampa
jangan kau pendam air matamu, hujankan pada bumi yang dahaga
tak usah kau pikirkan ke mana akhirnya aku berteduh
jika awan di matamu tak pernah berhenti mengguyur langkahku,
akan kulukis wajahmu di setiap genangan air
dengan ranting pena pada daun kertas, akan tertanam rindu pohon dan musim

BMS, 07_09

Dengan Sastra

suatu waktu kata yang terkemas pada teratai bunga akan menyumpal mulut linguistik. sebab, ucap yang tersampaikan pada ruang sastra yang menghadapkan prasangka, tak pernah kau sikapi dengan makna. padahal: kata adalah bumi yang menyumbat lapar, kata adalah langit yang menyeka dahaga. dan satu kalimat sastra adalah seindah segala cipta, meluaskan samudra yang mekar di taman bahasa.
namun, jika suatu waktu kata memikul sastra, kata memangku sastra, kata memeluk sastra, dan kau sampaikan lewat indahnya putik dan madu bunga, maka kau akan bisa bersandar, bisa tidur mendengkur nyenyak dan terbangun menggenggam bangsa.

BMS, 05_09

Sebab Ingin Bersua

ketika sampai mimpiku menembus cakrawala, hidup terpana
pada kesunyian yang bergelut tanya, langkah merana
dalam keraguan cinta yang terpancar, rindu berkelana
saat waktu batasi hayal dan nyata, engkau di mana
hati mengeram ayam, ingin bersua
sebab, bayangmu mekar dalam tidur, tanpa belasungkawa
menundukan kata pada cerita, hanya sementara
dan aku, takkan membuang sia.

BMS, 05_09

Potret indonesia kini

“merdeka-merdeka hiduplah Indonesia raya”

merah telah menguning
putih telah menghitam
hilang bentuk hilang warna
Indonesia entah ke mana
proklamasi mendadak karam
pancasila hanya bisa diam
UUD 45 murung tak berguna
negeri hilang pesona
garuda tertembak nestapa
runtuh tirani tinggal tugu
tertulis belantara bhineka tunggal ika
Indonesia sampah penipu

“merdeka-merdeka hiduplah Indonesia raya”

berorasi mulut beo berdasi
entah onani visi dan misi
rakyat selalu menanti
merah putih tak peduli
segala diskusi
segala petuah
segala-galanya cipta karya
dengan merdeka negara
bangsa belum tentu berjasa

“merdeka-merdeka hiduplah Indonesia raya”

keoportunisan menyelimuti keotoriteran
bergandengan dengan kolonial
seperti orang yang menebaskan aritnya
dan memukulkan palunya secara menyilang di bawah kitab suci
meski samar terlihat
benalu nasionalis sudah merambat merah putih

“merdeka-merdeka hiduplah Indonesia raya”

berapa banyak lagi
berapa lama lagi
sangsaka kabarkan duka lenyapkan suka
berapa pun jadilah satu
satu jadilah kesatuan
Indonesia bukan tak bertuan
“merdeka-merdeka hiduplah Indonesia raya”

nurani rakyat ingin berdiri tegak
di atas pasal-pasal hukum yang tak tetap
ikrarkan sumpah pemuda
nyanyikan lagu ibu pertiwi

“merdeka-merdeka hiduplah Indonesia raya”

kita belum menjadi mayat
kita hanya tidur terlalu lama
biarkanlah yang tiada

“merdeka-merdeka hiduplah Indonesia raya”

merdeka untuk penguasa
tertindas untuk rakyat jelata
tenggelamkan agama
di ranjang empuk pelacur-pelacur politik
semua itu kuratapi dan itu sungguh menggelitik

“merdeka-merdeka hiduplah Indonesia raya”

hanya bernyanyi Indonesia raya
kita merasa merdeka
tak lebih tak bukan dari segala

Serang, 1998.

Batas gerakmu sembunyi di jalan kata

katakataku katakatamu
katakatakita katakatamereka
katakatakalian katakatasiapa
katakatamu katakatakita
katakatamereka katakatakalian
katakata, siapa yang berkata
aku
kamu
kita
mereka
kalian
lalu siapa yang berkata

Serang, 2005

Aku dalam sastra

sepanas mentari aku menanti huruf, menyusuri bukit kata
sederas hujan aku bersabar pada kata, melewati lorong kalimat
sesejuk cuaca aku mengeja kalimat, merenung di muara bahasa
dengan makna tiada terbata, berfikir seperti air menetes pada batu, mengemas lembut seperti ombak pada karang, tak henti aku belajar sastra

Taman Banjar Agung, 08_09

Sepimu sepiku tiada terbagi

tak sempat mata mengemas bulan, sinar sudah mengeluh redup
mengendapkan rindu di separuh luka
menepikan cinta serasa di beda
pada sempurnamu, aku melata dalam gelap
setahun, seharu, sepisah, seperih, seabad, seangan, sejauh, seawan, senyata sekali:
yang disembunyikan sepimu dalam canda dan tawa adalah ragu
yang diungkapkan sepiku dalam rayu dan diam adalah percaya
sepagi, sesiang , sesore, semalam, semusim, kau tak kunjung di sampingku
o, ingin kutitipkan nama pada angin yang merasuk sukma, agar dalam nafas mengalun asmara: langit pada bumi yang merindu, laut pada gunung yang menjaga, panas pada hujan yang selalu menyapa, dalam ruang dan waktu pada sepimu dan sepiku yang tiada terbagi

BMS, 05_09

Kucing kucingan politik

cing caripit tulang bajing kajepit
telunjuk-telunjuk menusuk telapak tangan
telunjuk dibekap kena satu jadi penunjuk
telunjuk lain sembunyi jadi di tunjuk
penunjuk menunjuk di tunjuk, di tunjuk jadi penunjuk, penunjuk jadi petunjuk
cing caripit tulang bajing kajepit, lempar batu sembunyi tangan tetap terjepit

BMS, 05_09

Nyanyian rakyat pada kekuasaan

“para pejabat: engkau bukan pemeluk teguh
engkau hanya penguasa tangguh”

lingkaran kecil lingkaran kecil, lingkaran besar
rakyat mengecil rakyat mengecil, pejabat membesar
pejabat centil pejabat centil, rakyat jadi gusar
tidak stabil tidak stabil rakyat jadi brutal
pejabat sadar pejabat sadar, rakyat pun tentram

“para pejabat, tundukan kepala dan lihat ke bawah
putih itu meluas: rakyat.
hitam itu menyempit: kekuasaan”.
pejabat sadar pejabat sadar, rakyat pun tentram

Taman Banjar Agung, 08_09

Dzaat

jika ada akan tiada
maka tiada akan ada
jika ada untuk suka
maka duka untuk tiada
begitupun sebaliknya
Ia di antara ada dan tiada
tak pernah ada dan tak pernah tiada
dalam cipta, dalam rasa, dalam karsa, adalah Ia yang nyata

Taman Banjar Agung, 04_09

Sadarlah negeriku

negeriku tenggelam dalam bencana
suatu cara taubat nasuha: bagai mencuci noda di baju, menebus dosa
karena surga dibuat sengsara

negeriku berdansa dengan berhala
mendendangkan puja-puja laknat
negeriku berdansa dengan bencana
mendandankan wajah-wajah pucat

inilah negeriku, negeri musiman
negeri yang bertuan, terkadang tak berTuhan

negeriku harus berkaca pada kisah yang terjadi
pada kisah yang membuat semua itu terjadi
hingga tak lupa pada kisah yang pernah terjadi

sekarang atau pun nanti,
insaflah negeriku!

Serang, 2005.

Aku terkapar

ngilu desahmu meresap ke dalam sukma
menggugah hasratku maknai danau tubuhmu
aku terkesima menapak mutiara hatimu
kucium, sinarnya berfantasi mencapai mega-mega
merayu ruhku acungkan sang petapa yang keluar dari sangkar semu angkara murkaku
tertancap pada danaumu
aku terkapar

Serang, 2004.

HAM

seperti jempol melawan kelingking
kelingking melawan telunjuk
telunjuk melawan jempol
jari tengah kau jadikan komunis
jari manis kau jadikan kapitalis

hompimpah alaihum gambreng
demokrasi tanpa cantelan
satu demi satu jari jemari akan patah

Serang, 2004.

Pancaran rasa

o, pancaran rasa yang menusuk pusara kata
yang menguak kerelaan makna
yang keluar dari pesonamu dan berkuasa
sampaikanlah selamat datang bahasa cinta, akan kutulis cerita
sampaikanlah selamat datang bahasa kisah, akan kuungkap resah
ayo dayung kerinduan hingga akhir hidup tiba
dalam langkah mungkin berarti, kau dan aku!

Serang, 2005.

Nugraha Umur Kayu, lahir di Serang 07 Januari 1980. Alumni FKIP Jurdiksatrasia Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Semasa kuliah, aktif dalam pergerakan aktivis kampus Forum Keluarga Mahasiswa (FKM), pernah menjabat sebagai ketua Oi (orang Indonesia/organisasi fans Iwan Fals) Kabupaten Serang (2003-2006). Selain itu aktif berkegiatan di Komunitas Penulis Gerage Budaya, dan Komunitas Belarak Untirta. Pernah mengikuti kelas penulisan (Bengkel Sastra) di Forum Kesenian Banten (FKB). Karyanya pernah dimuat di koran lokal Banten dan sudah tersebar di seluruh media. Saat ini bergiat di Kubah Budaya, namun juga bergaul dengan segerombolan (konon aktor) yang menyebut diri sebagai grup teater AnonimuS, dan sesekali mampir di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Banten. Email: nugrahaumurkayu@yahoo.co.id. Alamat tinggal: Jl. Raya Jakarta Km.04/ Jl. Jendral Sudirman, Komplek P.U. Pengairan Kemang, No.09, RT 03 RW 02, Serang-Banten 42124.

no rek: BRI 0084-01-042970-50-0
cabang serang banten
Atas nama: AHMAD SUPENA

Punya Puisi dan Artikel yang menarik untuk di publikasikan?
kirim puisi kamu atau artikel sobat  di email masyhuri_arifin@yahoo.co.id, di email abighail_smil3@yahoo.co.id atau isi kolom komentar di bawah.

9 Tanggapan

  1. BAGI SAYA PUISI ANDA SANGAT BAGUS KLO BOLEH KIRIMKAN PUISI YANG ROMANTIS

  2. yg menarik bg ku waktu ku buka n ternyata karya dr anak KENDARI….^_^…

    so????

  3. MATAMU DITUMBUHI CAHJAYA
    untuk istriku

    matamu ditumbuhi cahaya
    daundaunnya merimbun di alismu
    buahnya dua, tergolek di bola matamu
    di tengahnya, saripati cahaya
    tempat menimbun airmata
    jikalau rekah, menabur cahaya

    Kendari, Oktober 2008

    MULUT CAHAYA

    mulutmulut cahaya komatkamit di ujung senjakala
    hujanhujan bercahaya berkilau di pinggir kemaraya
    petang merambati alamraya menggandeng tangantangan malam
    azan dan kelepak camar mengharu dan menyapu sampaikan salam

    Kendari, Oktober 2008

    NYAWA TERLINDAS

    perempatan diam merah menyalak
    kendaraan diam bisu digertak siang galak
    hijau menyala debur kendaraan bagai ditalak
    nyawa terlindas meletus dalam adu tabrak

    Kendari, Oktober 2008

    RINDU MEREBUS SEMBAHYANG

    1
    laut lengang
    karang diam
    ombak hentikan buih-buihnya bercumbu di tepian
    nun, perahu bersayap zikir, tafakur
    menghikmati ikan-ikan pulang.

    jemari-jemari angin bergelantungan di urat-urat bakau
    cis cis butir air menyelam ke karam
    jatuh dari camar terbang

    tak ada kasidah hujan yang mengelana
    di birahi-birahi gelombang
    dan anak-anak hitam, ayah-ayah karang
    berlibur di ranjang berselimutkan gerimis cahaya
    yang menembus dinding lontar.

    2
    wahai Kekasih
    rindu merebus sembahyang dan tualang
    menjelma bianglala dan cahaya lila yang cebur ke air.

    laut lengang.
    rindu dan galau bergelora
    seumpama gelombang ini
    memburuMu ke langit ke cakrawala
    tiada kira.

    zikirku, takbirku
    mereka-reka Engkau yang tak terkira.
    sementara tasbih mencair bersama gelombang.

    Kendari, 24 Mei 2006

    SURAT JULIET

    seteguk belati
    setikam racun
    kuburkan riwayat kita

    tapi di altar pemakaman durja
    kabut subuh gundah
    tanggalkan sehelai rambutmu kirmizi
    menjelma cakrawala sepanjang Italy

    telah melapuk dinding montague dan capulet
    yang kaudaki aku di puncak renjana
    dan menembakkan kesumat di sembab ranjang

    tapi badan dan ranjang pun membangkai.

    lambaian dan lolongan orang-orang
    yang berkabung di kota verona
    melukis bibirmu menyihir.

    dan airmatamu mengalir
    kan diziarahi para pelancong
    kesejatian cinta
    kemolekan luka.

    kita pun
    tak pernah mati.

    romeo.

    Jakarta-Kendari, Juni-Desember 2005

    SERIBU BULAN

    awan-awan bergerak perlahan menggandeng rembulan
    mata-mata bintang dirundung diam
    pepohonan lengang, daun-daun rindang
    merunduk mendekap rumputan

    malam apa gerangan
    sandingkan seribu bulan.

    angin hentikan perjalanan, lafadzkan ayat-ayat tuhan
    gelombang tiada bergerak
    seperti perahu layar mematung di tengah lautan

    seribu iblis diringkus di penjara tuhan
    seribu malaikat melanglang,
    adakah si fulan mengeja tasbih dan zikir.
    pintu surga disibak seribu lapis
    bersama pintu jahanam dibungkam seribu lapis

    rumah siapa diarak malaikat tengah malam
    semburatkan cahaya dan aroma kesturi.
    tujuh belas bidadari berlendang
    sembilan puluh sembilan merjan
    terbujur di setiap pintu dan jendela
    berlayar ke negeri tuhan.

    bulir-bulir hujan yang subtil berguguran
    menanggalkan kalam ilahi yang basah
    lesap ke jantung bumi.

    Kendari, 18 Oktober 2005

    HAMDANA

    hamdana
    kurapikan buku layu
    kukemas dalam dos-dos
    kaus-kaus hitam kulipatkan
    foto-foto sandiwara di panggung murung
    kuseksamai bersama airmata gugur
    sekalian rindu menggeram.

    akh, seketika terbayang
    mula perjumpaan di kursi belakang gedung tua
    di depan, ada pembacaan sajak melankolia.
    juga tekad kita dulu
    melakonkan beribu-ribu peran
    sambil Menunggu Godot
    dan Kereta Kencana.
    tapi Hamdana
    masa depan begitu samar
    bayang-bayang gamang,
    padahal jalan begitu tirus
    dan panjang.

    jari kakimu bergeletar menjauh
    kuayunkan langkah berat berlalu
    punggung gigil dada dingin.
    kau lesap diseret gelombang
    aku pamit diboyong angin.

    kudengar soraksorai mengiang di gedung tua
    panggilan meronta-ronta di rerimbun asoka.
    tapi hamdana
    masa depan begitu samar
    kita mesti terobos dengan mata nanar.

    gendang telingaku disesaki komedi nyinyir
    paru-paruku disayati tragedi menyihir
    dan ini edisode terakhir,
    kau eksit ke belakang panggung
    aku lenyap di balik layar.
    panggung lengang
    lampu padam.

    hamdana

    Teater Sendiri, 20 April 2005

    SURAT MATAHARI

    pagi gugur
    matahari tampak kabur
    disongsong keranda laut
    anak-anak berdatangan menuju kubur.
    tak sempat kuhantarkan doa-doa
    sebelum engkau
    melesak ke terminal tuhan.

    airmata langit
    dan gerimis yang jatuh bersuara parau
    mengguyur serambi ini
    yang tinggal batu-batu
    dan sebiji peluru.

    pabila malam pulang
    hanya udara yang datang sempoyongan
    bercerita tentang sepucuk surat dari matahari
    yang berlabuh di meulaboh.

    Bekasi, 13 Juni 2005

    Anak Malam

    kau anak siapa
    yang berani lalu lalang
    dari malam ke malam,
    tanya malam menyeka air mata.

    bukankah aku anak kau malam
    yang membesarkan aku malam demi malam,
    jawab si anak tertawa.

    tidak, sebelum kau ke sini kau adalah anak seorang mama,
    jelas malam sambil menyibakkan selimutnya kelam.
    tidakkah ia mencarimu
    kau tak rindu danmerasa berdosa?

    ibu saya telah pergi suatu malam
    saat lelah memintal beribu malam
    dalam suatu ledakan,
    jawab si anak malang menangis tiba-tiba.

    seketika sang malam tertawa.
    kau lucu tapi tegar sayang.
    tapi kau jangan menangis
    anak malam tak boleh cengeng
    kau lihat anak malam yang lain
    meski gelandangan
    tapi berjuang siang malam.

    terima kasih malam
    kaulah mamaku sekarang.
    si anak luluh dalam dada malam.

    kau punya siapa sayang?
    mm, aku punya malam.
    kalau mama malam kepunyaan siapa?
    tidak sayang
    kau bukan kepunyaanku
    dan aku bukan kepunyaanmu.
    suatau malam
    kita kan pulang.
    tapi sang anak malam
    masih menyisa bimbang,
    punya tuan
    atau tuhan.

    Jakarta Suatu Malam, Juni 2005

    WONDULAKO, LAMEKONGGA

    deretan kelapa deretan cokelat
    mendekap rumah-rumah sederhana
    dari ujung ke ujung pagar bambu satu warna
    sebuah papan bertuliskan
    sejuk sentausa sederhana

    wondulako si tanah merah
    rakyatnya petani ramah
    kulitnya coklat lamekongga
    rambutnya rerimbun daun kelapa
    bahasanya selatan tenggara

    saat matahari menggelantung di pepohonan
    dedaunan hijau menjelma keemasan
    para ayah membawa kelapa angkutan
    para ibu menjunjung keranjang buah-buahan
    para lekaki memikul coklat petikan
    para nona menggendong semangka kehijauan

    wondulako, lamekongga
    si tanah merah kolaka daratan

    deretan kelapa deretan cokelat
    rakyatnya petani ramah
    kulitnya coklat lamekongga
    matanya teduh pantai kolaka
    tatapnya gerhana bulan
    bahasanya selatan tenggara
    pabila aku berlabuh di dermaga kolaka.

    Kolaka, Agustus 2004

    DI TANJUNG RINDU
    untuk ita windasari

    saripati purnama memancur dari wajahmu
    mengaurkan aroma hubbu, berkilau seperti manikmanik waktu
    pertemuan teramat harum untuk ditanggalkan
    bagai kelopak bunga terbang ke cakrawala
    reranting menangisi kepulangannya
    rumput dan batubatu bersidekap basah
    airmata mengalir ke bandar tarakan
    tarakan, tarakan
    di gelegar lautmu aku menghikmati laut keperakan
    diberondong cahaya petang
    sambil menghitung alismu perawan
    setiap lembarannya memantukan nur kesentausaan
    bagi batin pengembaraan
    perahu layar dikemudi tangantangan kesetiaan
    berarakan ke muara harapan, mengangkut nasib dan kefanaan
    di tanjung rindu
    jantung berguruh dilanda harubiru
    kertapkertap dada, derakderak rahasia
    tumbang di sajadah kata, engkau membukanya
    inci demi inci, inti kesejatian
    aku berkaca di kening purnama
    yang tergolek di bandar tarakan
    sebelum aku pulang ke haribaan petualangan
    ke gua nasib ke liang sunyi, ke rahim kendari
    mengerami sajak demi sajak
    kutetaskan di batu karang
    kukirim berkendara sang ilir
    berlabuh di bara airmatamu, ita.
    penantian demi penantian
    seperti titian panjang
    aku di hulu engkau di hilir
    kita pun bersua sampai tua
    di swargaloka
    [senja itu, tarakan angin keperakan
    digerogoti airmata persuntingan
    perahu layar seumpama kelelawar memar, menggelepar ke asin luka
    kapal tongkang membongkar jasad petualangan
    bagai bongkah ombak, meringkuk dicekik peti kemas
    oe, si fulan teronggok di terjal malam
    menjebloskan nyawa ke liang tarakan
    jasadnya terlantar di yatimpiatu syahbandar]

    Tarakan, 8 Maret 2008

    PERJAMUAN MAGRIB

    1
    istriku. azan magrib mengulum matamu
    alismu rebah terbangun
    rambutmu yang magrib lelap di leherku
    kuhikmati ranumnya seperti menyuntuki batubatu tasbih
    merah di luar kamar bercengkerama di keningmu
    matamu terbuka seumpama fajar terluka
    bilal mengundang ke perjamuan magrib
    menyantap sumsum alfatiha dan anggur arrahman

    suamiku.bangunlah dari bebatan istirah
    syair bilal mengelana di dadamu
    penyetia yang tak lekang mengirim hubbu
    matamu berkabut surau menyambut
    temaram isya segera datang, satusatu bintang bertandang
    di luar, jamaah melenggang ke taman sembahyang
    sebelum iqamah datang sebelum kiamat jelang

    2
    sepasang suami istri
    membuka kamar membuka pagar
    kakikakinya lariklarik puisi
    hikmat dan nikmat ke terowongan magrib
    jamaah bersorban berkerudung langit
    mengerubung kiblat, lalu imam berkidung
    oi, alangkah mawar allahu akbar
    penawar jiwajiwa memar
    rubuh dan rukuk dalam geluruh sembahyang

    Kendari, 12 Agustus 2008

    Perjalanan Hujan

    matahari dikurung mendung
    mendung berkidung lewat airmatanya bening
    hujan berdesir
    seperti gerigi sisir
    menyisir butirbutir pasir
    pasirpasir garing kecoklatan dilumat hujan
    pasir dan hujan bergandengan tangan
    di deras kali di arus sungai
    menuju rahim lautan

    Kendari, Agustus 2008

    POHON AIR MATA

    sebuah pohon menggugurkan bungabunganya
    buah berpamitan kepada tangkai
    daun lerai ke sungai.
    masih sempat seekor burung menangkap sebutir buah merah
    sebelum tersungkur ke batu

    ditanggalkannya kulit ari hitam
    lalu pakaian dalam putih
    diserahkan pada siang
    sampai kersang sampai legam
    ketika taufan datang ia menghilang ke selatan.
    masa depan musim panen, dienyahkan ke jantung diam

    tak hanya itu.
    akarakarnya mulai bertangisan
    merangkak ke atas bumi
    rasanya getir seumpama disabit petir
    pergi sebelum saatnya tiba

    ketika akar tercerabut terenggut
    pohon telanjang itu melenggang
    akarakarnya mencengkeram bumi
    seperti ingin menulis puisi
    di belakang suara gelegar sang jagal
    gerigi baja mengerkah memenggal
    pohonpohon airmata, satusatu.

    Kendari, Agustus 2008

    SYAIFUDDIN GANI lahir di Salubulung, Mambi, Kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat, 13-9-1978. Belajar sastra & teater sejak bergabung di Teater Sendiri Kendari tahun 1998. Bekerja di Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara. Bersama sanggar ini pula, pentas teater di berbagai kota di Indonesia, antara lain Temu Teater Kawasan Timur Indonesia Banjarmasin, Surabaya, Solo, Yogyakarta, dan Jakarta. Mengikuti Temu Sastra Kepulauan & Kampung Budaya IV 2004 di Takalar, Makassar, Sulsel. Puisinya terkumpul dalam antologi bersama Sendiri, Sendiri 2, Sendiri 3, Malam Bulan Puisi, Kendari, Ragam Jejak Sunyi Tsunami, 142 Penyair Menuju Bulan, Medan Puisi, Bunga Hati Buat Diah Hadaning, Tanah Pilih dan sajak tunggal Perjalanan. Karya sastranya dimuat di Horison, Republika, Seputar Indonesia, Lampung Post, Radar Lampung, Analisa, Gong , Sultra Pos, Annida, Radar Sulbar, Sundioh, http://www.majalahimajio.com, Kendari Pos, Kendari Ekspres, dan Pedoman Rakyat . Pos-el: udin_gani@telkom.net & om_puding@yahoo.com. Membentuk dan membina Komunitas Sastra Anaway.

  4. apa kabar anak kendari
    mana suaramu di tengah deru matahari?

  5. aku juga salah satu penggemar puisi terutama puisinya om puding n k’anto, klu bisa lampirkan dengan fotonya n tambah lagi dengan beberapa penyair TS dong!!!

  6. KAMALI DI SEPULUH

    ;Pamanku Alfailun

    Sapoaati yang menjalari pantai
    Mencipta prahara
    Tentang takdir dan pesan ombak
    Yang gagal terbaca dermaga
    itu malam

    tak ada gegar kabhanti menusuk teluk
    tapi bula malino telah lama bulat
    menggigit kelam langit wolio,
    meledek temaram bukit kolema,
    juga jengkal-jengkal
    halaman putih pulau makassar
    meluaskan mimpi senja hari

    gelap, sepi, remuk di sini
    di antara detak pasar malam
    dan neon-neon meninggi
    ada juga lagu Anggun C. Sasmi
    merobek sunyi wajah
    membunuh seru adzan isya masjid raya

    kamali di sepuluh,
    ketika cuaca melunturi musim
    padamu paman,
    akan kukabar kekalahan angin
    lelah menghimpit
    tegar patung naga

    Bau-bau, 10-11 April 2009

    YANG GUGUR DAN YANG TUMBUH

    yang gugur
    kukremasi pada rongga bernama kebencian
    pekat menguapkan rindu nan melepuh patah
    mengabu bersama utas-utas tawa
    entah siapa yang pernah memintalnya

    sekaku dayung menggaris kedamaian arus
    yang tumbuh
    kuserahkan untuk mekar dalam doamu
    meliuk tak acuh meski tercekik hembus nafas
    para pendosa

    yang gugur
    likat berbaur debu-debu
    yang tumbuh
    riang berbalut siang
    menunggu sepi menjahit malam

    Kamar, 5 februari 2009

    LAPULU

    Lapulu kampung bermata sayu
    tanah cerah penyaksi silsilah
    searus angin Moramo dan Pantai Nambo

    diantara kirmizi getah jati
    memancar airmu
    yang berkecipak mimpi-mimpi

    seraya memeluk Teluk Kendari
    kau bersandar pada gurauan sunyi Abeli
    hanya pada wajahmu
    waktu menenun pagi begitu putih
    disesaki mitos tak berkesudahan
    dari kompleks warga transmigran

    sore hari ditemani nyanyian burung Jikki
    senja berbenah begitu merah
    seperti kasumba di warung Masnuna

    masih kugenggam kenangan
    yang kau sulam tiap malam
    tentang tembang kesayangan nenek
    dan parang asahan kakek

    Lapulu senyum ibuku
    pada dangkal dermaga rentamu
    kutemukan kedalaman puisiku

    Kendari,19 Februari 2009

    Ket :
    Jikki adalah sebutan orang Lapulu untuk sejenis burung laut yang berkicau pagi dan senja.
    Masnuna adalah nama salah satu pemilik warung di Lapulu.

    SEPOTONG SAJAK

    aku pernah melihat ketakutan
    pada wajah sepotong sajak yang hendak kubakar
    ditingkahi sendu bayangan bulan
    tertatih tanpa tongkat pada tepi kusam sebuah kolam
    kulengkapi deritanya dengan kisah cinta
    yang tercebur comberan

    17 Feb 2009

    AKU. PADA SEBUAH JALAN

    angin kusut masai di jalan ini
    menyerakkan kata luka dan sobekan pagi
    ada damai kepak merpati
    mati bersama raung remah-remah hujan

    menengadah di jalan ini
    jejak mendung hambur di mataku
    menebak-nebak luas langit hingga
    epilog sajak biru
    rasanya hari ini akan jadi panjang,
    diskusi dengan rindu semakin ngilu

    berlari di jalan ini
    menerobos gersang kematian musim
    aku kalah dan pecah jadi keping buah mahoni
    getir, dan lebih siksa dari laut yang
    memerdekakan jiwa-jiwa, sedang ia terpenjara cakrawala
    menampung ketaksetiaan ombak

    hanya pada jalan ini
    tak kutahu ujung bersemayam
    lalu dari tuturan malam
    kuketahui ujung itu akan datang
    mengetuk setiap pintu rumah

    7 maret 2009

    LELAKI KEJORA

    lelakiku!

    sepanjang lajur kesetiaan hari esok
    sutra wajahmu tersemai
    bersama rerimbun taman
    mawar-mawar nanar, menemui kau
    lebih tegar waktu mekar

    seperti senyuman
    garis tepi itu kukenal dari kedalaman obor matamu
    tiba-tiba rekat di bibir malam
    kala gelap mengendap
    mengaburkan mimpi rerumputan

    bulan menulis sajak tentang rasa bosan
    lalu kubingkai deras matamu menatap aku
    dalam detak jantung musim kemarau, degupnya
    padam hujan berserakan
    kata tak pernah cukup sesudahnya

    kaulah sketsa,
    lahir dari jejak pagi yang pupur
    di kaca jendela
    arsiran hitam putih menjelma
    bebayang nyata seorang adam
    merembes di nadiku
    menciptakan labirin, selasar, dan trotoar,
    tempat nalarku merambat, bersijingkat,
    atau berlari
    memburu siluetmu
    kejora!

    1 maret 2009

    SKETSA KENANGAN

    membaca gerak angin yang sesekali mengecup
    lembut keningku
    berkibarlah kenangan akan bulan-bulan silam
    jejaknya tertinggal pada pematang waktu
    yang telah mengering

    ada terik yang kita pungut tiap siang
    dan dingin mengiris malam
    membuat hati berembun hingga fajar
    lalu kau akan mengurungku dalam benderang hari
    seakan mengerti ketakutanku pada gulita

    cair tawamu begitu liat bekukan sunyi
    dalam malam-malam tanpa tuturan para pendongeng
    beribu pelita terpelihara pada matamu
    karena tahu ada lorong kelam yang harus kita lalui
    tak ada matahari disana

    andai itu bukan kenangan
    tentu ada senyum memulas bibirku petang ini
    bahkan kini sketsa tentangmu samar ku ingat
    kaupun menjelma malam yang habiskan terang
    semua sosok mengabur dalam hadirmu

    hari ini terlanjur usang
    aku ingin hidup dalam diammu saja
    meski senyap, meski gelap

    Kendari, 21 September 2008

    SEJAK MALAM TAK LAGI DIAM

    menulis namamu pada genangan hujan
    lebih mudah dari menuliskannya di hatiku
    tolong sampaikan semuanya
    termasuk rinduku pada purnama yang terbit
    di malam-malam beku
    ingin ku kawani dia bersemayam di rimbunan jati
    yang ranggas bersua kemarau
    meski itu tak mungkin lagi
    sejak cahayanya terlalu menikamku
    pada tenangnya gulita
    sampaikan saja rinduku, entah bagaimana
    atau selesaikan bait puisiku yang ini
    jangan tanyakan apapun
    kini aku lebih sendiri dari sebelumnya

    Kendari, 20 September 2008

    KEMARAU HIJAU

    diantara serak teriakan kemarau
    kutulis surat untuk hujan
    angin-angin sahara melesatkannya menembus biru
    tak kukenal lagi senyum di wajahku
    aku menunggu terlalu lama untuk seutas mendung
    karena rinduku telah beku
    ada air mata menitik
    pada tanah retak yang kupijak
    lalu kau menanam sebatang pohon disitu
    membiarkannya tumbuh di antara aliran air mataku
    ada yakin yang kucuri dari senyummu
    ”tunggulah saja, kemarau berubah hijau”, katamu
    kulanjutkan lagi suratku
    dengan airmata terus menitik
    akan kutunggu kemarau berubah hijau

    kendari, 21 september 2008

    ELEGI SEBUAH RINDU
    Kawanku: Emma

    dan matahari pun memergoki gerimis
    kalau boleh biarkan kupaku pelangi
    agar lekat dijendela kamarmu
    kuterka kau akan tertawa

    benar saja
    lalu kurasakan nafasmu mengoyak lembaran angin
    menguapkan berbutir luka kaku
    mendung pecah menjadi rintik paling senyap

    biru bergumam dibening matamu
    tak sepicing kau berpaling
    ada ilalang merunduk
    dan terlepaslah rindu pada ibu

    lengkung seuyum dalam takjub
    membulatkan bianglala paling sempurna
    kalau boleh biarkan ku pahat namamu
    pada merahnya puncak pelangi yang rona

    kamar, 17 nov -08
    0.35

    Wa Ode Rizki Adi Putri, lahir di Kendari pada 4 Desember 19 tahun yang lalu. Saat ini tengah menempuh pendidikan di FKIP Unhalu pada program studi PBSID. Mencintai dunia sastra dan ingin terus berkarya. Pos-el (wr.adiputri@ yahoo.com)

  7. Keren banget puisinya… Slam kenal buat Rizki. Keep Struggle in books, Key!!!

  8. ketika malam datang menghampiri tatkala senja diupuk barat seraya burang meyapa awan yang seakan termakan oleh gelapnya malam………………..kok gelap terus seh, makanya telpon pln dong giar gak gelap lagi hehe…………

  9. iya niee….
    makanya bayar tu tagihan listrik biar lmpunya nyala teruss….

Tinggalkan Balasan